Minggu, 14 Juni 2009

Meningkatkan Kesadaran Berbahasa Sunda


Oleh DINGDING HAERUDIN

DEMIKIAN pentingnya suatu bahasa bagi masyarakat pemakainya, kini menjadi perhatian dunia. UNESCO, sebagai Organisasi Pendidikan, Ilmiah, dan Kebudayaan dalam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), pada bulan November 1999 menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Maka patut kita menghargai para pendahulu yang mengambil langkah cemerlang yang begitu arif dan bijaksana. Diperlakukannya bahasa-bahasa daerah seperti Sunda, Jawa, Bali, Madura, Bugis, Makassar, dan Batak sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional, serta dilindungi dengan dimasukkannya Pasal 36, Bab XV, UUD 1945.

Sangat terpujilah masyarakat yang begitu peduli untuk memelihara dan melestarikan bahasa daerah. Di samping bahasa Indonesia sebagai alat persatuan, bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya sebagai media komunikasi antar bangsa di dunia. Bahasa daerah (Sunda) pun memiliki hak hidup dan dipelihara masyarakatnya (masyarakat Sunda).

Pada hakikatnya semua macam dan ragam bahasa yang ada di seantero jagat ini adalah kehendak-Nya. Artinya dengan sengaja diciptakan oleh Allah SWT bagi semua umat manusia untuk dapat saling berhubungan (komunikasi). Oleh karena itu sungguh mulia umat yang menjunjung tinggi keagungan ayat-ayat Allah SWT. Wallohu a’lam bisawab, mungkin dapat dikaji lebih lanjut pada Ar-Rum Ayat 22 yang artinya, Jeung sawareh tina ayat-ayat-Na, Anjeunna ngayugakeun langit katut bumi jeung beda-bedana basa maraneh katut warna maraneh. Saestuna dina anu karitu teh kakandung ayat-ayat pikeun jalma-jalma anu palinter mah.

Berkaitan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional, bahasa Sunda sebagai bahasa etnik Sunda maupun bahasa daerah lainnya, sedikit banyaknya telah banyak diperbincangkan nasib keberadaan dan penggunaannya di masyarakat. Para ahli bahasa telah banyak meneliti dan membuktikan bahwa bahasa Sunda di samping sebagai bahasa resmi kedua setelah bahasa Indonesia, juga menjadi pendukung bahasa nasional. Bahasa Sunda yang menjadi bahasa indung (ibu) hingga kini dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan. Penggunaan bahasa daerah di tingkat permulaan sekolah dasar itu penting, agar dapat memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain.

Bahasa Sunda tidak hanya sebagai alat komunikasi etnik Sunda. Bahasa Sunda juga sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Akan sangat janggal ketika orang Sunda berbicara tentang budayanya, tetapi tidak menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya. Bahkan teu keuna (terasa kurang menyentuh) apabila seorang pakar budaya Sunda, ketika akan berbicara di dalam forum kesundaan meminta izin kepada yang hadir untuk tidak berbicara dalam bahasa Sunda.

Patut kita syukuri, bahasa Sunda hingga tanggal 21 Februari tahun 2005 ini masih dipergunakan dalam berkomunikasi. Bahasa Sunda masih dipelajari sebagai mata pelajaran di SD dan SLTP; masih diteliti para ahli; dan masih dipupusti sebagai budaya warisan karuhun. Karena bila kita perhatikan basa indung (mother tongue) lainnya, tidak sedikit yang bernasib malang. Bahasa Indian di Amerika atau bahasa Aborigin di Australia, dan konon bahasa Kaili sebagai bahasa ibu masyarakat etnik Kaili yang mayoritas masyarakat Sulawesi Tengah, kini sudah di ambang kepunahan. Karena kepedulian masyarakat terhadap bahasanya sudah pudar.

Tidak demikian halnya dengan kondisi bahasa Sunda masa kini. Penulis yakin bahwa bahasa Sunda tidak akan mengalami hal serupa di atas. Dengan catatan generasi sekarang dan yang akan datang memiliki sikap positif terhadap bahasanya. Sikap bahasa itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu sikap terhadap bahasa dan sikap berbahasa. Pertama, sikap terhadap bahasa penekanannya tertuju pada tanggung jawab dan penghargaan masyarakat terhadap bahasa yang dimilikinya. Sedangkan sikap berbahasa ditekankan pada kesadaran diri masyarakat dalam menggunakan bahasanya secara tertib.

Bertemali dengan kesadaran berbahasa suatu masyarakat, para ahli bahasa berkeyakinan bahwa bila seseorang semakin dekat dengan suatu bahasa, maka orang tersebut akan semakin terampil berbahasa maupun sikap positif berbahasanya. Dengan demikian, nilai sosial bahasa tersebut akan semakin tinggi. Untuk mencapai kondisi demikian, sejak dini bahasa Sunda harus sudah diperkenalkan kepada anak sebagai alat komunikasi di lingkungan keluarga dan sebagai alat transfer budaya. Terlebih lagi bila bahasa Sunda dipergunakan secara konsisten sebagai bahasa pengantar di TK, atau di SD pada kelas-kelas awal, yaitu kelas 1 s.d 3, di samping sebagai mata pelajaran atau bidang studi di SD dan SMP.

Tidak semua daerah di tanah air memiliki unsur pendukung yang strategis dalam memeliharan bahasa ibunya. Unsur pendukung itu di antaranya perguruan tinggi. Dan tidak pula semua perguruan tinggi di daerah/provinsi memiliki jurusan/program bahasa daerah. Lembaga pendidikan tinggi seperti UPI diharapkan menghasilkan calon guru bahasa Sunda yang berkualitas. Dengan idealisme yang melekat pada diri mereka, diharapkan mampu menciptakan iklim kesundaan yang kondusif, bagi muridnya bila kelak mengajar di SMP atau SMA.

Di samping Jurusan Pendidikan Bahasa Sunda, UPI juga memiliki Program PGTK dan PGSD. Di kedua program itu pun diberikan mata kuliah bahasa Sunda. Diharapkan para lulusan PGTK dan PGSD kelak secara proporsional dapat mengajarkan bahasa Sunda di SD, atau di TK sebagai bahasa pengantarnya. Demikian juga di Unpad, telah banyak menghasilkan lulusan yang menjadi para ahli linguistik maupun kesusastraan, dan peneliti yang kompeten.

**

BAHASA Sunda tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat pendukungnya, termasuk pers yang memanfaatkannya sebagai alat komunikasi dengan publik. Pers berbahasa Sunda, seperti Mangle, Galura, Cupumanik, Giwangkara memiliki peran yang spesifik pada bahasa dan pers itu sendiri, yakni sebagai panutan, sebagai referensi, atau sebagai contoh yang benar. Artinya, bahasa pers tidak bisa membebaskan diri dari aturan kebahasaan. Indah sekali apabila bahasa Sunda pers diciptakan dengan kesadaran meningkatkan penggunaan bahasa Sunda.

Menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat untuk berbahasa Sunda tidak hanya didominasi oleh pers berbahasa Sunda. Telah pula dilakukan juga oleh pers berbahasa Indonesia yang beredar di Jawa Barat. Munculnya kekuatan bahasa Sunda dalam pers berbahasa Indonesia, bisa kita pandang sangat positif karena pemungutan bahasa Sunda menunjukkan kekuatan posisi pers daerah dan pendekatannya pada masyarakat pembacanya.

Pemungutan bahasa Sunda juga bertujuan untuk menyebarluaskan informasi kepada publik. Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap kedudukan bahasa Indonesia, penggunaan istilah yang berasal dari bahasa Sunda (mungkin daerah lainnya) diduga lebih pas dan lebih bisa dipahami, daripada misalnya kurang tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

**

UNESCO menetapkan Hari Bahasa Ibu Internasional menimbulkan reaksi yang sangat positif, terutama dalam membangkitkan gairah masyarakat pemakai bahasa Sunda. Mengapa tidak, dengan adanya kesepakatan bangsa-bangsa seantero jagat ini, membuktikan pentingnya bahasa daerah, setidaknya bagi penutur aslinya, dan diharapkan pula kalangan pemerintah daerahnya.

Pada Pasal 5 ayat 7 Perda No. 5 Tahun 2003, tersirat bahwa pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan (Diknas) memfasilitasi pelaksanaan penggunaan bahasa pengantar pendidikan dari pengajaran di kelas-kelas permulaan (1-3) sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Pada ketentuan umum Perda tersebut dinyatakan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Barat mengemban tanggung jawab di bidang pemeliharaan bahasa daerah.

Idealnya, sebelum perda itu disosialisasikan kepada masyarakat luas, pemerintah daerah terlebih dahulu harus memelopori proses penggunaan dan pelestarian bahasa daerah (Sunda). Langkah tersebut penting dilaksanakan sebagai contoh untuk meyakinkan masyarakat akan pentingnya bahasa Sunda sebagai bahasa ibu yang sarat dengan karakter dan nuansa budaya daerah.

Gerakan yang menggembirakan telah dibuktikan oleh lembaga pemerintahanan di Kabupaten Bandung. Bupati Kabupaten Bandung patut mendapat penghargaan, beliau mewajibkan aparat pemerintahannya berbahasa Sunda setiap hari Senin. Bahkan setiap Salat Jumat khotib diwajibkan menggunakan bahasa Sunda dalam menyampaikan khutbahnya. Disusul Disbupar Provinsi Jabar mensosialisaikan berbahasa Sunda setiap hari Jum’at.

Yang menarik adalah adanya sangsi denda seribu rupiah untuk setiap kali kesalahan dalam berbahasa Sunda di jajaran karyawan di Disbudpar, shock therapy seperti itu cukup memacu aparat pemerintah untuk terampil berbahasa Sunda. Ini adalah angin segar bagi lembaga pemerintahan kota/kabupaten lainnya.

Kegiatan berbahasa memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakatnya dalam setiap situasi. Pada situasi komunikasi yang mencekam (istilah pakar bahasa Prof Dr. Yus Rusyana) yang disampaikan pada Konferensi Bahasa Nusantara (1999), bahasa daerah (Sunda) terkadang menyelinap dalam rapat dinas maupun komunikasi atasan dan bawahan. Alih kode itu cukup menghidupkan dan meluweskan hubungan yang kaku, untuk memberi variasi kepada wacana yang seragam, untuk menjelaskan pengertian yang abstrak, untuk membina keakraban, serta menyediakan kata, ungkapan, dan budi bahasa yang lebih cocok dalam suasana setempat. Fungsi demikian itu berlangsung, tetapi tidak pernah dihargai, malah mungkin dianggap mengganggu bahasa Indonesia yang benar dan baik. Untuk menghindari hal itu, sangat tepat langkah yang telah dilakukan oleh pimpinan pemerintahan, dari mulai gubernur, wali kota, dan bupati di wilayah Jawa Barat menetapkan satu hari khusus dalam seminggu untuk berbahasa Sunda di lingkungan pemerintahan provinsi, kota/kabupaten.

Tidak kalah pentingnya komitmen unsur pendukung pelestari bahasa Sunda yang dikemas dalam organisasi kesundaan. Organisasi kesundaan seperti LBSS, Paguyuban Pasundan, Yayasan Rancage, PPSS, DAMAS, dan sebagainya secara berkesinambungan melaksanakan berbagai kegiatan. Organisasi nirlaba yang di dalamnya adalah masyarakat Sunda yang memiliki idealisme dan kepedulian (bukan paduli) begitu tinggi, sangat wajar mendapat dukungan dari pemerintah. Tetapi akan sangat menyedihkan, bila organisasi kesundaan yang membela budayanya lenyap begitu saja ditelan masa, karena luput dari perhatian pemerintahnya.

**

KETETAPAN Hari Bahasa Ibu Internasional itu merupakan kesadaran bangsa di dunia. Bahasa ibu, tidak hanya bagian budaya yang harus dipelihara, juga merupakan alat berekspresi manusia dalam keberagaman. Disadari pula bahwa keberadaan bahasa ibu saat ini berada pada suasana multibahasa. Sehingga ada kemungkinan bahasa ibu akan lenyap begitu saja. Itulah sebabnya warga dunia dianjurkan agar ikut memperhatikan bahasa ibu yang sekarang berada dalam era global.

Baik masyarakat dunia maupun masyarakat Sunda di masa lalu hingga masa kini, tidak bisa melepaskan diri dari persinggungan dengan bangsa atau suku bangsa lainnya. Dari hasil persinggungan itu, sedikit banyaknya berpengaruh terhadap masing-masing bahasanya. Hal itu sudah merupakan kodrat alam yang tidak bisa dihindari. Maka tidak dapat dielakkan, Undak-usuk Basa Sunda (UUBS) yang konon pengaruh Jawa menjadi bagian yang turut memperkaya bahasa Sunda. Itulah yang kini menjadi unsur dari tatakrama berbahasa Sunda. Sehingga dikenal ada bahasa Sunda lemes, sedeng, dan kasar.

Polemik berkepanjangan tentang UUBS di kalangan ahli bahasa Sunda pun hingga saat ini tidak terhenti. Sebagian orang Sunda dan para ahli berpendapat, bahwa UUBS menjadi kendala sulitnya bahasa Sunda digunakan masyarakatnya. Tetapi di kalangan masyarakat Sunda dan para ahli lainnya tetap mempertahankannya. Hingga tak luput jadi bahan perdebatan pada setiap Kongres Bahasa Sunda I s.d VII dan KIBS. Hemat penulis, kesulitan masyarakat menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan kesehariannya, bukan karena ada dan tiadanya UUBS, tetapi alasan kebutuhan (keperluan) berbahasanya.

Masyarakat Sunda yang mahir berbahasa Inggris, fasih berbahasa Arab atau bahasa asing lainnya karena mereka merasa perlu. Bahkan dengan adanya kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut masyarakat untuk mempelajarinya. Artinya, bila dihubungkan dengan kebutuhan, bahasa Sunda pun akan dipelajarinya.

Sangat sulit menempatkan bahasa Sunda pada posisi yang dibutuhkan oleh masyarakatnya. Malah ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa bahasa Sunda tidak prospektif. Oleh karena itu yang terpenting sekarang adalah bagaimana menanamkan kesadaran berbahasa Sunda bagi masyarakat Sunda. Ini bukan berarti masyarakat Sunda harus kembali ke belakang. Masyarakat Sunda harus progresif. Masyarakat yang maju tidak lantas meninggakan akar budayanya. Kehidupan berbudaya yang demikian dinamis menantang masyarakat Sunda untuk mengimbanginya. Dengan memegang prinsip think globally act locally, masyarakat Sunda mampu memilah-milah dan memilih-milih kehidupan lokal, nasional, dan internasional.

**

BAHASA Sunda sebagai bahasa ibu tidak bisa dipisahkan dari peranan seorang Ibu (ema; indung, istilah Sunda) di rumah tangga. Di lingkungan keluarga itulah sedini mungkin ditanamkan kesadaran berbahasa Sunda. Ketika bayi berada dalam buaian, ketika anak menyusui, ketika Ibu menasihati, ketika Ibu menyapa, ketika Ibu mendoakan, ketika Ibu menghantar tidur, dan situasi lainnya, hingga ketika Ibu menghardik dipenuhi oleh bunyi-bunyi bahasa Sunda yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Posisi seorang Ibu yang begitu terhormat bagi anak-anaknya, sangat strategis menggiring generasi penerusnya mencapai posisi yang cageur, bageur, bener, pinter, wanter, singer. Pola asuh untuk mencapai hal itu lebih tepat menggunakan media bahasa daerahnya. Kebiasaan itulah pada akhirnya memandu anak-anak memperoleh kesadaran dan kepercayaan yang lebih dalam merealisasikan jati dirinya, di samping memperoleh kebanggaan yang sah dan logis.

Bukan tanpa alasan UNESCO menetapkan Hari Bahasa Ibu Internasional ini. PBB merasa perlu mengembalikan masyarakat dunia kepada budaya lokal sebagai dasar berpijaknya. Di tangan seorang Ibu-lah, pemegang kunci awal dalam menggiring bangsanya ke arah itu. Dengan segala kelembutan bahasa dan kasih sayangnya, posisi seorang Ibu tidak bisa digantikan kedudukannya oleh sekolahan yang sangat mahal sekalipun. Lembaga pendidikan formal tidak akan menjamin seratus persen dapat memanusiakan manusia. Karena kondisi dunia yang semakin carut marut ini, sebagian besar dikarenakan ulah masyarakat berintelektual, yang nota bene mereka adalah insan akademis.

Kondisi dunia yang kini dipenuhi dengan kerawanan sosial, kekerasan, saling menghujat, saling menipu, saling mencaci, saling memfitnah, seakan-akan merestui kebebasan yang semakin tidak mengenal batas. Namun bila melalui pendekatan berbahasa yang santun, masyarakat Sunda tidak akan terbawa arus seperti itu. Kehidupan yang berpegang pada kearifan dalam kebersamaan terus bergulir tanpa henti, karena sesuai dengan pandangan hidupnya silih asah, silih asih, silih asuh.

Arus informasi mengalir begitu deras. Masyarakat Sunda pun dituntut berada pada posisi multibahasawan, untuk meraih Iptek yang semakin canggih. Dengan semangat Hari Bahasa Ibu Internasional ini, diharapkan dapat mengingatkan dan menumbuhkan kembali kesadarannya akan akar budayanya yang nyaris terlupakan.

Setiap budaya di mana pun di dunia ini, memiliki papakon (aturan) perilaku yang dibenarkan dan disalahkan. Melalui tutur kata seorang ibu yang begitu lemah lembut, akan sangat besar dampak psikologisnya kepada seorang anak, dalam memahami nilai-nilai budayanya. Tutur kata yang dipenuhi kasih sayang, bagaikan air susu yang mengalir, memberikan ketenteraman, kenyamanan, dan keindahan hidup yang paling berharga bagi putra-putri tercinta, seuweu siwi Pajajaran.***

*) Penulis, Sekretaris Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), dosen, dan mahasiswa program S-3 PPS UPI.*

Sumber: Pikiran Rakyat, 19/02/2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar